Manajemen Krisis

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang berhasil mencapai cita-cita dan tujuannya secara maksimal. Begitu pula dengan kerja praktisi PR yang bertugas menangani krisis kepercayaan dan mengembalikan citra positif perusahaan dimana praktisi PR ini bernaung. Untuk kelancaran jalannya proses pencapaian tujuan tersebut dilakukan cara-cara penyelenggaraan kerja yang seefisien mungkin dengan mengingat faktor tujuan, biaya, fasilitas, waktu, dan tenaga. Dengan kata lain bahwa PR memerlukan metode kerja yang menjadi syarat mutlak untuk mencapai tujuan.
Metode pekerjaan PR ditekankan pada penelitian terhadap publik. Dari penelitian disusun rencana kerja, kemudian dilaksanakan, lalu dilakukan evaluasi. Secara sistemastis proses pekerjaan PR dalam menangani krisis dan menurunnya citra perusahaan dapat digambarkan sesuai tahapan tadi, yaitu :
1.Penelitian (Research)
Penelitian mempunyai peranan sangat penting sebagai kegiatan pendukung dalam melaksanakan fungsi PR, baik untuk memperoleh data, fakta lapangan mengenai citra perusahaan, persepsi, pandangan, dan opini public secara akurat serta tanggapan khalayak sebagai target sebagai sasaran mengenai kebikajsanaan, pelayanan, program kerja, aktivitas perusahaan.
Menurut Ann H. Barkelew, Senior Vise President of Fleishman-Hillard’s Office, Amerika menjelaskan bahwa sangat pentingnya peranan penelitian untuk mencapai kesuksesan atau efektivitas dalam pelaksanaan praktik PR (Cutlip, 2000 : 351).
Secara ilmiah kita mengenal beberapa jenis penelitian : survey, case study, activity analysis, content/document analysis, serta penelitian follow up. Semua jenis penelitian tersebut dapat digunakan praktisi PR untuk mencapai tujuannya.
2.Perencanaan (Planning)
Setelah mendapatkan hasil laporan yang berupa data dan fakta dari penelitian, PR kemudian menyusun rencana kerja. Dalam hal ini rencana kerja disusun tidak berdasarkan pada keinginan yang dipaksakan dan irrasional. Perencanaan yang baik bersifat rasional, flexible, dan berkelanjutan.
Tujuan dari perencanaan PR adalah :
1.Mengubah citra.
2.Membentuk citra baru.
3.Memperkenalkan perusahaan.
4.Meningkatkan community relatios.
5.Menentukan partisipasi pemimpin dalam kehidupan masyarakat (public life).
6.Memberitahukan kegiatan penelitian.
Keberhasilan perencanaan tergantung pada keterampilan dan efisiensi praktisi PR. Salah satu faktor yang bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan dari perncanaan tersebut adalah pembentukkan opini, sikap, dan citra.
3.Pelaksanaan (Action)
Pelaksanaan dilakukan setelah rencana yang matang mendapatkan persetujuan dari semua pihak terkait. Pelaksanaan kerja merupakan kegiatan operasional dalam melakukan apa yang telah direncanakan. Pengembalian kepercayaan dan citra perusahaan dilakukan dengan menggabungkan tenaga kerja, alat-alat, informasi, waktu, tempat, dan uang. Pelaksanaan ini dikatakan sukses apabila tujuan telah tercapai. Dalam hal ini berbagai cara dan teknik digunakan diantaranya yaitu pendekatan terhadap pegawai (internal public) dan pendekatan kepada umum (eksternal public). Untuk mengebalikan kepercayaan publik dan citra perusahaan diutamakan pendekatan kepada umum karena menyangkut pandangan masyarakat secara luas.
Ada beberapa instrument yang dilakukan praktisi PR dalam melaksanakan membentuk citra lembaga dalam perusahaan diantaranya :
• Publisitas, merupakan komunikasi kepada publik melalui media massa atau langsung face to face, dan tidak memerlukan suatu bayaran, baik dari pihak komunikator (PR) maupun dari pihak media massa yang bersangkutan. Dalam membangun citra lembaga instrument ini sering digunakan, terutama jika lembaga tersebut sedang dalam permasalah finasial (deficit).
• Periklanan (Advertising), periklanan merupakan suatu kegiatan yang terkait dengan dua bidang kehidupan manusia sehari-hari, yakni ekonomi dan komunikasi. Dengan iklan citra suatu perusahaan bisa menjadi lebih baik. Iklan hanya menyebutkan sisi positif perusahaan. Iklan yang terus menerus yang ditayangkan dapat mempengaruhi pola perilaku,pandangan, serta kepercayaan masyarakat.
• Demonstrasi adalah sesuatu yang bisa mempercepat pengaruh terhadap khalayak sasaran serta meningkatkan citra yaitu demonstrasi. Dalam hal ini penglihatan, pendengaran, dan pemikiran publik bisa terkonsolidasi seketika sehingga menimbulkan penilaian yang bisa mendorong ke arah tindakan publik yang positif. Terutama pandangan atau image akan lebih baik terlihat oleh khalayak
• Propaganda, agar publik menerima apa yang disodorkan serta mau menanamkan citra yang positif dan timbul kepercayaan, perusahaan dan petugas PR hendaknya melakukan propaganda. Propaganda merupakan kegiatan persuasif untuk mempengaruhi seseorang, suatu kelompok, atau orang banyak dengan dasar-dasar psikologis agar menerima suatu ide yang pada waktu tertetu belum tentu di terima.
• Pameran , salah satu cara yang menarik untuk menanamkan citra positif pada perusahaan adalah dengan melakukan pameran. Tujuan utama dari pameran adalah mengundang publik untuk mengenal, melihat, dan mengerti akan hal-hal mengenai perusahaan, terutama sekali hasil dari produksinya.
Sales Promotion. Di samping untuk meningkatkan citra perusahaan, promosi dilakukan bertujuan untuk meningkatkan penjualan dengan memberikan rangsangan atau bujukan yang membangkitkan pembelian barang dan jasa.
House Organ ( Penerbitan Majalah Perusahaan/lembaga ). Agar pencitraan yang sudah dicapai tetap bertahan maka diberikanlah informasi kepada pihak khlayak atau pihak eksternal melalui majalah khusus yang diterbitkan oleh perusahaan, dan biasa disebut house organ.
Open House, memperkenalkan citra perusahaan dapat juga dilaksanakan dengan cara mengundang dan menerima tamu untuk keperluan pencitraan tersebut. Tujuan utamanya adalah agar dikenal dan populernya perusahaan dikalangan masyarakat.


4.Penilaian (Evaluation)
Penilaian ini tahap dimana pemeriksaan terhadap program dan rencana yang dapat dilakukan. Tahap ini berguna untuk mengetahui permasalahan yang harus diperhatikan lebih lanjut.

            Artikel lain yang dapat kalian kunjungi (www.outbondraftingpacet.com)

Penulis            : Muhammad Yanuar Boni S

No Telp           : 081554623886

Definisi Krisis


            Krisis merupakan suatu masa kritis yang hampir bisa dipastikan dialami oleh semua perusahaan. Penanganan krisis akan menentukan keberadaan perusahaan selanjutnya. Penanganan yang baik bisa meningkatkan kualitas perusahaan tersebut, sedangkan penanganan yang tidak baik bisa menurunkan bahkan menjatuhkan perusahaan tersebut.
            Setiap perusahaan harus selalu siap dengan kedatangan krisis agar bisa melakukan pencegahan ataupun penanganan untuk mengantisipasinya. Walaupun setiap perusahaan mengalami krisis yang berbada, namun semuanya memiliki cara antisipasi yang sama, yaitu Preventive Public Relations, Preventive Public Relations adalah perencanaan penanganan krisis dengan rencana aksi yang bisa dilakukan dalam waktu cepat, tetapi efektif. Assegaf dalam Soemirat dan Ardianto (2002) menyatakan dua hal yang harus dilakukan jika terjadi krisis, yaitu: menghubungi pejabat pemerintah yang bersangkutan dan menghubungi media massa untuk di publikasikan.
            Krisis memiliki beberapa sumber, yaitu:
a.       Bencana alam yang mempengaruhi publik dalam dan luar perusahaan.
b.      Kondisi darurat yang datang mendesak
c.       Sesuatu yang membuat panik, kerusakan, dan pemogokan
d.      Rumor buruk tentang perusahaan
e.       Berbagai masalah yang di timblukan publik dalam dan luar.
Soemirat dan Ardianto (2002) mengklarisifikasikan krisis ke dalam delapan golongan:  kecelakaan Industri, masalah lingkungan, masalah perburuhan, masalah produk, masalah dengan investor seperti desas-desus dan isu, peraturan pemerintah, dari isu. Krisis bisa terjadi dalam bentuk abstrak maupun kongkret, di dalam maupun di luar perusahaan. Krisis bisa menyebabkan perubahaan citra perusahaan, maka dari itu Public Relations memiliki peranan yang besar ketika terjadi krisis.
Dalam suatu tim krisis harus ada orang-orang yang kompeten untuk mewakili berbagai kepentingan. Orang-orang tersebut adalah wakil dari bidang hukum, pimpinan tertinggi, pejabat PR, Personal Industrial Relations, Employee Communications, petugas keamanan pabrik, kegiatan teknis, kesehatan atau medis, juru potret, dan bagian kontak media. Krisis juga bisa menimbulkan berbagai resiko, seperti peningkatan intensitas masalah dan penurunan citra perusahaan. Selain itu, krisis juga bisa berdampak buruk bagi perusahaan dan publiknya. Teknologi komunikasi yang semakin meningkat menyebabkan dampak krisis menyebar dengan cepat. Menurut Kasali (1994), krisis juga selalu menyertai tumbuhnya organisasi atau perusahaan.

           
Artikel lain yang dapat kalian kunjungi (www.raftingnoars.com)

Penulis            : Muhammad Yanuar Boni S
No Telp           : 081554623886


Masalah Public Relations


            Public Relation merupakan suatu bidang yang sangat diminati di negara ketiga karena proses perkembangan yang sedang terjadi disitu. Diperlukan suatu sistem penyebarluasan informasi yang cepat untuk menunjang proses yang sedang berjalan. Namun, dalam prosesnya, PR juga mengalami beberapa masalah dan hambatan.
            Komunikasi. Komunikasi sering menjadi terhambat karena ketiadaan media-media modern untuk menyebarluaskan informasi. Selain itu, walaupun media modern sudah tersedia tetapi masih ada satu kendala, yaitu tingkat buta huruf yang cukup tinggi sehingga penggunaan media modern masih kurang optimal. Bahasa daerah yang beragam serta larangan-larangan lokal juga tak jarang menghambat proses komunikasi.
            Pemasaran. Ada suatu masalah besar dalam hal pemasaran di negara-negara dunia ketiga atau negara berkembang. Ada dua masalah kependudukan yang cukup rumit di negara dunia ketiga, yaitu; kebanyakan populasi masih berusia di bawah lima belas tahun serta mata pencaharian orang-orang dewasa sebagian besar adalah petani. Dua masalah tersebut mengakibatkan rendahnya penghasilan dan daya beli masyarakat.
            Khalayak. Penduduk yang termasuk golongan menengah ke atas hanya merupakan minoritas di negara dunia ketiga. Lebih dari 80 persen penduduk tidak berlaku kebarat-baratan seperti golongan menengah ke atas karena penghasilan kurang memadai. Selain itu, masih terjadi suatu ketimpangan dimana kaum wanita berada pada posisi inferior.
            Komunikasi Massa. Hambatan juga berasal dari ketertinggalan akan komunikasi massa. Sirkulasi koran yang ada masih sangat terbatas untuk kaum-kaum tertentu dan koran tersebut belum bisa memenuhi standar koran yang seharusnya. Selain itu, sebagian besa populasi tidak membaca koran karena buta huruf dan memang tidak berminat. Mereka lebih suka mendengar radio atau menonton televisi yang bersifat hiburan dan bukan acara yang disediakan oleh media radio dan televisi juga belum bisa menjangkau seluruh kalangan karena sangat bervariasanya bahasa yang ada. Namun, masih ada negara-negara dunia ketiga yang telah bisa memanfaatkan modernitas komunikasi massa, seperti Indonesia.
            Dilema Periklanan. Badan-badan pembuatan iklan di negara-negara ketiga masih memiliki keterbatasan tentang pengetahuan pembuatan iklan. Iklan yang dihasilkan seringkali memiliki karakteristik yang ‘unik’ dan lokal. Hal tersebut menyebabkan perbedaan tafsir perusahaan produsen dengan konsumen yang menonton iklan dan dapat menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
            Mendidik Pasar. Kegiatan PR di negara dunia ketiga jauh berbeda dengan PR di negara maju. Salah satu tugas utama yang cukup sulit bagi PR adalah kegiaatan mendidik pasar, Pada suatu produk misalnya, label atau merek saja tidak cukup berada dalam sampul kemasan. Harus ada sebuah instruksi pemakaian berupa kata-kata bahkan gambar karena banyak penduduk yang belum bisa menggunakan produk dan belum bisa membaca.
            Inilah beberapa masalah umum yang banyak terjadi di negara dunia ketiga. Public relations dalam menjalankan tugasnya harus berusaha lebih keras untuk mengatasi masalah tersebut. Hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi dengan kerjasama dari berbagai pihak karena tujjuan utamanya pun adalah kemajuan negara secara keseluruhan.

            Artikel lain yang dapat kalian kunjungi (www.kaliwaturafting.com)

Penulis            : Muhammad Yanuar Boni S

No Telp           : 081554623886

Penulisan PR


            Menurut Kasali (1994), strategi penulisan pesan yang dapat dilakukan oleh PR antara lain?
1.      Strategi Informasi
a.       Mengungkap fakta
b.      Menuuju sasaran
c.       Digunakan pada peluncuran produk baru, kampanye consumer awareness dan program – program pelayanan masyarakat.
2.      Strategi Argumentasi
a.       Ada dua sisi yang dapat muncul ke permukaan dari suatu isu
b.      Persuasif
c.       Memberikan alasan – alasan logis kepada audiens terutama pada mereka yang masih netral dan terbuka untuk argumentasi
3.      Strategi Citra (Image)
a.       Untuk mengembangkan dan memelihara identitas yang kuat dan mudah diingat
b.      Tujuannya adalah mengaitkan persepsi ke dalam suatu konsep atau simbol tunggal yang mewakili pesan
c.       Strategi citra yang berhasil adalah strategi yang menghasilkan persepsi bahwa citra tersebut merupakan subjek, bukan sekedar simbol
d.      Banyak dipakai pada kampanye politik dan kampanye produk yang berkonotasi
4.      Strategi Emosional
a.       Dimaksudkan untuk membujuk
b.      Dapat dipakai pada kampanye-kampanye dimana penerima pesan bersifat netral atau sudah mulai positif terhadap pengirim pesan dengan menggugah perasaan seseorang
c.       Memilih kata atau struktur kalimat yang sifatnya menggugah perasaan, seperti patriotisme, romantisme atau kadang-kadang humor
5.      Strategi Menghibur
Sangat efektif bila digunakan dalam keadaan persaingan yang ketat dan lingkungan yang rumit
            Artikel lain yang dapat kalian kunjungi (www.rafting-pacet.com)

Penulis            : Muhammad Yanuar Boni S

No Telp           : 081554623886

Variasi Media Public Relations


                                    
a) Media pers (press)
Media ini terdiri dari berbagai macam koran yang beredar di masyarakat secara umum, baik yang berskala regional maupun nasional atau bahkan internasional, koran-koran gratis, majalah-majalah, yang diterbitkan secara umum maupun hanya dalam jumlah terbatas untuk kalangan tertentu; buku-buku petunjuk khusus; buku-buku tahunan dan laporan-laporan tahunan dari berbagai lembaga yang sengaja dipublikasikan untuk umum.

b) Audio-visual
Media ini terdiri dari slide dan kaset video, film-film dokumenter.

c) Radio
Kategori ini meliputi semua jenis radio, mulai dari yang berskala lokal, nasional hingga internasional baik yang dipancarkan secara luas maupun yang dikemas secara khusus.

d) Televisi
Televisi sebagai media PR tidak hanya televisi nasional atau regional tapi juga televisi internasional, termasuk pula sistem-sistem teletex.

e) Pameran (exhibition)

f) Bahan-bahan cetakan (printed material)
Yakni berbagai macam bahan cetakan yang bersifat mendidik, informatif, dan menghibur yang disebarkan dalam berbagai bentuk guna mencapai tujuan humas tertentu.

g) Penerbitan buku khusus (sponsored books)
Isi buku ini bisa bermacam-macam, misalnya saja mengenai seluk-beluk organisasi, petunjuk lengkap mengenai cara penggunaan produk-produknya atau bisa juga mengenai keterangan tentang berbagai aspek yang berkenaan dengan produk atau organisasi itu sendiri.

h) Surat langsung (direct mail)
Surat PR seperti ini tidak saja ditujukan kepada tokoh atau pribadi-pribadi tertentu saja, tetapi juga kepada berbagai macam lembaga yang sekiranya relevan, atau untuk dipajang di tempat-tempat umum.

i) Pesan-pesan lisan (spoken words)
Penyampaian pesan PR juga bisa dilakukan melalui komunikasi langsung atau tatap muka.

j) Pemberian sponsor (sponsorship)
Suatu organisasi atau perusahaan bisa pula menjalankan kegiatan PRnya melalui penyediaan dana atau dukungan tertentu atas penyelenggaraan suatu acara seni, olahraga, ekspedisi, beasiswa universitas, sumbangan amal, dan sebagainya. Kegiatan penyediaan sponsor ini juga sering dilakukan dalam rangka melancarkan suatu iklan atau mendukung usaha-usaha pemasaran.



k) Jurnal organisasi (house jurnals)
Suatu bentuk terbitan dari sebuah perusahaan atau organisasi yang sengaja dibuat dalam rangka mengadakan komunikasi dengan khalayaknya.

l) Ciri khas (house style) dan identitas perusahaan (corporate identity)
Bentuknya bisa bermacam-macam, tergantung pada bentuk dan karakter organisasinya. Ciri khas organisasi atau identitas perusahaan ini sengaja diciptakan untuk mengingatkan khalayak atas keberadaan dari organisasi yang bersangkutan.

m) Bentuk-bentuk media humas lainnya
Misalnya banyak perusahaan sengaja menyisipkan pesan-pesan sosial pada kemasan produknya agar khalayak mengetahui bahwa mereka bukanlah binatang ekonomi yang semata-mata mengejar keuntungan.

Artikel lain yang dapat kalian kunjungi (www.songa-rafting.com)

Penulis            : Muhammad Yanuar Boni S

No Telp           : 081554623886

Media Dalam Public Relations


Media merupakan jalur terpenting dalam kegiatan PR. Media yang ada saat ini sangat bervariasi. Anda harus bekerja keras agar dapat mendorong media untuk memuat pendapat anda. Oleh karena itu, Anda memerlukan ‘cerita’ dan perlu dipikirkan secara tepat apa yang ingin anda lakukan dan ditujukan kepada pihak mana. Hal ini bertujuan agar terjadi hubungan yang baik dengan media. Untuk melakukan hal itu, Anda harus mengetahui sifat media tersebut. Ada beberapa media yang dapat dijadikan mitra untuk bekerjasama oleh PR, diantaranya sebagai tersebut:
1.      Pers,
2.      Broadcasting media (televisi dan radio),
3.      Film dokumenter dan visual aids,
4.      House Jurnals,
5.      Corporate Identity,
6.      Printed Material,
7.      Corporate Advertising,
8.      Sponsorship,
9.      Conferences dan Seminar,
10.  Exhibitions,
Menurut Kasali (1994), dalam memilih media yang dijadikan mitra untuk bekerjasama harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
1.      Siapa audience media tersebut?
2.      Berapa jauh jangkauan media?
3.      Dimana menjangkau audience-nya?
4.      Bagaimana kredibilitas dan keahlian wartawan media tersebut?
5.      Bagaimana kecepatan media menjangkau audience-nya?

Kepada Publik

Bila membandingkan media PR dan media iklan, akan muncul lima hal menarik:

1) Kampanye periklanan dan kampanye humas sama-sama bisa menggunakan berbagai macam media.

2) Para praktisi PR berhubungan dengan para editor, jurnalis, serta para produser TV dan radio, sedangkan para praktisi periklanan lebih banyak berhubungan dengan para manager iklan dari berbagai perusahaan, petugas iklan di media massa (radio, koran, televisi, majalah, dan sebagainya).

3) Iklan sifatnya jauh lebih komersial dibandingkan dengan PR.

4) Kampanye periklanan biasanya dilakukan terbatas pada media-media yang bisa diharapkan akan membuahkan hasil maksimal (misalnya lonjakan penjualan) dengan biaya serendah-rendahnya.

 Sedangkaan kampanye PR bersedia menggunakan media apa saja, asalkan bisa menjangkau sebanyak mungkin khalayak.


5) Tidak seperti dunia periklanan, dunia PR dapat menggunakan berbagai media khusus seperti jurnal-jurnal internal, buletin atau sekedar majalah dinding.

Artikel lain yang dapat kalian kunjungi (www.tips-indonesia.com)



Penulis            : Muhammad Yanuar Boni S
No Telp           : 081554623886


Penanganan Menurut Pakar

Pada tahun 1994, Kasali memberikan opini terhadap penanganan suatu krisis. Krisis dapat di lihat dari sinyal peringatan yang di berikan. Antara lain
A)    Kejutan ( Surprise )
Krisis muncul di waktu yang tidak dapat di duga dan di perkirakan. Krisis muncul secara mendadak seperti erupsi gunung merapi yang siap meletus kapan saja. Kedatangan krisis secara mendadak membuat perusahaan bingung harus melakukan tindakan selanjutnya. Kedatangan krisis juga sangat tidak di harapkan oleh perusahaan maupun organisasi karena hanya akan membawa kerugian material maupun citra perusahaan
B)     Meluasnya Isu ( Rumor )
Dampak dari lambatnya penanganan krisis adalah meluasnya isu ( Rumor ) di dalam atau luar perusahaan. Pekerja dan masyarakat akan mempertanyakan kinerja dan menghujani perusahaan dengan berbagai kritik. Dari omongan mulut ke mulut membuat citra perusahaan semakin lama semakin memburuk.
C)    Ekskalasi
Dari isu – isu yang ada membuat krisis semakin cepat menyebar dan merembet ke berbagai sektor perusahaan. Semakin cepat rumor menyebar, semakin tak terkendali pula krisis.
D)    Lepas Kendali
Krisis akan semakin menjadi jadi dan membuat perusahaan kewalahan dalam menangani,tidak segera di bentuknya tim penanganan krisis oleh perusahaan membuat krisis lepas kendali dan tidak dapat di tangani lagi. Bahkan,PR pun akan mengalami banyak kendala dalam menyelesaikan krisis dan akan ikut kehilangan kendali.
E)     Penyelidikan pihak luar meningkat
Adanya kepentingan pihak luar dalam suatu perusahaan, membuat penyelidikan pihak ini semakin marak terjadi. Niatan pihak luar bermacam-macam, entah itu membantu maupun menjatuhkan perusahaan karena di anggap saingan.

Admin             : Aditya Ngesti Utomo
Nim/No.Hp     : 143140807111032/082234059502

Link                 : www.kaliwaturafting.com